Halo Blogger kali ini saya akan membahas tentang Subsidi untuk Peningkatan Impor.
Subsidi adalah Pemberian bantuan dari pemerintah kepada masyarakat baik dalam bentuk materi maupun yang lain.
Subsidi ini sendiri hanya dapat di nikmati oleh masyarakat menengah ke bawah ,yang ekonominya terbilang tidak terlalu besar. Namun pada era presiden yang baru ini ,subsidi tersebut akan di cabut dengan alasan untuk meningkatkan APBN negara ,padahal Subsidi hanya terhitung 5% dari total APBN Negara.
Ekspor sendiri merupakan Penjualan produk lokal ke mancan negara dengan tujuan mendapat Laba, Biasanya Barang-barang ekspor ini dibuat oleh pengusaha dalam negeri ,namun faktanya sekarang ini banyak Barang-barang ekspor di indonesia di pegang oleh negara asing.
Hal ini cukup merugikan ,karena dasarnya keuntungan dari ekspor tersebut sebagian besarnya akan di berikan kepada negara asing yang mengolah Barang ekspor tersebut ,padahal pada dasarnya ,barang tersebut adalah milik negara indonesia.
Cara yang paling efektif untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meningkatkan produktifitas serta mutu kerja di kalangan Pengusaha dalam negeri ,salah satunya dengan subsidi ,karena indonesia terkenal dengan ekspor berasnya saat Zaman Presiden Suharto dahulu ,Kualitas beras di indonesia sangatlah bagus ,karena selain tanah yang subur ,indonesia juga terletak di garis khatulistiwa ,sehingga iklim dan musimnya sangat bagus untuk menanam beras dan menghasilkan kualitas No.1
Namun kembali lagi pada Indonesia sendiri ,Faktanya banyak dana-dana yang harusnya di berikan kepada pengusaha lokal tersebut ,malah di selewengkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab ,korupsi di indonesia masih sangat besar ,maka alangkah baiknya jika kita mendidik generasi penerus untuk Belajar JUJUR sejak dini ,karena JUJUR adalah awal kesuksesan.
Sekian dari saya ,semoga artikel ini bermanfaat untuk anda semua.
Selasa, 31 Maret 2015
INDONESIA MEMILIKI KENDALA DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI PERTANIAN
Topik : Peta Perekonomian Indonesia
Indonesia merupakan negara yang berada di Benua Asia, lebih tepatnya terletak dibenua Asia Tenggara. Negara Indonesia juga dilintasi garis khatulistiwa. Indonesia terletak diantara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Dan Negara Indonesia juga terletak diantara dua samudra, yaitu samudra Pasifik dan samudra Hindia. Negara Indonesia memiliki tanah yang subur. Namun sangat disayang, masyarakat Indonesia belum dapat memanfaatkannya.
Indonesia merupakan negara yang berada di Benua Asia, lebih tepatnya terletak dibenua Asia Tenggara. Negara Indonesia juga dilintasi garis khatulistiwa. Indonesia terletak diantara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Dan Negara Indonesia juga terletak diantara dua samudra, yaitu samudra Pasifik dan samudra Hindia. Negara Indonesia memiliki tanah yang subur. Namun sangat disayang, masyarakat Indonesia belum dapat memanfaatkannya.
Kamis, 26 Maret 2015
NEGARA INDONESIA ADALAH NEGARA BERKEMBANG YANG AKAN MENJADI NEGARA MAJU
Topik : Perkembangan Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia
Kita tahu, bahwa Negara Indonesia adalah Negara Berkembang. Negara Indonesia belum bisa dikatakan Negara Maju karena Negara Indonesia masih tertinggal dari Negara-Negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Negara-Negara maju lainnya yang ada di dunia. Mengapa Negara Indonesia masih tertinggal jauh dari Negara-Negara Maju seperti yang tadi disebutkan? banyak sebab yang melatarbelakangi mengapa Negara Indonesia masih menjadi negara maju. Salah satu yang mungkin akan saya bahas disini adalah karena Negara Indonesia memiliki ekonomi, teknologi dan pendapatan perkapita penduduknya yang masih rendah jika dibandingkan dengan negara maju.
Kita tahu, bahwa Negara Indonesia adalah Negara Berkembang. Negara Indonesia belum bisa dikatakan Negara Maju karena Negara Indonesia masih tertinggal dari Negara-Negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Negara-Negara maju lainnya yang ada di dunia. Mengapa Negara Indonesia masih tertinggal jauh dari Negara-Negara Maju seperti yang tadi disebutkan? banyak sebab yang melatarbelakangi mengapa Negara Indonesia masih menjadi negara maju. Salah satu yang mungkin akan saya bahas disini adalah karena Negara Indonesia memiliki ekonomi, teknologi dan pendapatan perkapita penduduknya yang masih rendah jika dibandingkan dengan negara maju.
Rabu, 25 Maret 2015
PERANAN PEMERINTAH DALAM MENGATUR KEHIDUPAN EKONOMI
Topik :Sistem Perekonomian Indonesia (Peranan Pemerintah Dalam Mengatur Kehidupan Ekonomi)
Selasa, 23 Desember 2014
MENGENAL LEBIH DALAM APA ITU KOMUNITAS EKONOMI ASEAN
Assalamualaikum wr, wb, kali ini saya akan bertanya kepada para blogger Apa itu
ASEAN? ASEAN adalah Association of Southeast Asian Nationals (perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara)
Latar
Belakang Pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN
- Krisis keuangan Asia 1997-1998
- Pertumbuhan ekonomi China dan India
Tentang
komunitas Ekonomi ASEAN
- Kerjasama ekonomi ASEAN mengarah kepada pembentukan komunitas ekonomi ASEAN sebagai suatu integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil, makmur, dan berdaya saling tinggi.
- Komunitas Ekonomi ASEAN akan diberlakukan pada Desember 2015. Bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan budaya.
4 Pilar ASEAN
Economic Community (AEC)
1. Terbentuknya Pasar dan basis produksi tunggal
- Bebas arus barang
- Bebas jasa
- Bebas investasi
- Bebas tenaga kerja
- Bebas arus permodalan
- Priority Integration Sectors (PIS)
- Pengembangan sektor food agriculture forestry
2. Kawasan Berdayasaing Tinggi
- Kebijakan persaingan
- Perlindungan konsumen, HKI
- Pembangunan infrastruktur
- Kerjasama energi
- Perpajakan
- E-commerce
3. Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata
- Pengembangan UKM
- Mempersempit kesenjangan pembangunan antar negara ASEAN
4. Integrasi dengan Perekonomian Dunia
- Pendekatan koheren terhadap hubungan ekonomi eksternal
- Partisipasi yang semakin meningkat dalam jaringan suplai global
Demikianlah yang bisa saya sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan.wassalamualaikum wr, wb.
sumber: Santi Pangaribuan, Kepala Sub Bagian Organisasi dan Event Internasional Biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri Setda Provinsi DKI Jakarta. Jakarta, 21 Oktober 2014
1. Terbentuknya Pasar dan basis produksi tunggal
- Bebas arus barang
- Bebas jasa
- Bebas investasi
- Bebas tenaga kerja
- Bebas arus permodalan
- Priority Integration Sectors (PIS)
- Pengembangan sektor food agriculture forestry
2. Kawasan Berdayasaing Tinggi
- Kebijakan persaingan
- Perlindungan konsumen, HKI
- Pembangunan infrastruktur
- Kerjasama energi
- Perpajakan
- E-commerce
3. Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata
- Pengembangan UKM
- Mempersempit kesenjangan pembangunan antar negara ASEAN
4. Integrasi dengan Perekonomian Dunia
- Pendekatan koheren terhadap hubungan ekonomi eksternal
- Partisipasi yang semakin meningkat dalam jaringan suplai global
Demikianlah yang bisa saya sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan.wassalamualaikum wr, wb.
sumber: Santi Pangaribuan, Kepala Sub Bagian Organisasi dan Event Internasional Biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri Setda Provinsi DKI Jakarta. Jakarta, 21 Oktober 2014
PEDAS NYA HARGA CABAI
selamat pagi, siang, sore, dan malam para blogger semua, kali ini saya akan membahas tentang mahalnya harga cabai. yang saya bahas kali ini bukan soal "cabai-cabaian" yang ada di pikiran para laki-laki termasuk saya. tapi kali ini saya akan membahas cabai yang benar-benar pedas sama seperti harganya sekarang. ya langsung saja tampa panjang lebar, saya menambil pembahasan ini dari koran kompas, kamis, 18 Desember 2014.
Harga cabai tembus Rp 90.000 per kilogram di tingkat konsumen. Di beberapa daerah yang jauh dari pusat produksi, harganya bisa mencapai Rp 100.000 per kg. bahkan ada yang sampai Rp 110.000.
Berbeda dengan musim panen cabai sebelumnya ketika harga cabai petani hanya Rp 3.000 per kg, bahkan di beberapa daerah hanya 1.500. Situasi harga cabai sekarang jelas memberi keuntungan berlipat-lipat bagi petani.
Bayangkan, dengan modal kurang dari Rp 10.000 per kg, petani bisa menjual dengan harga tiga kali lipat lebih tinggi. Jika harga jual cabai di tingkat petani Rp 30.000 per kg, untuk petani dengan lahan 1 hektar dan produktivitas 25 ton, uang Rp 600 juta dengan mudah bisa dikantongi petani tersebut.
Fluktuasi harga cabai terus terjadi setiap tahun. Meski pemerintahan datang silih berganti, seperti tak kuasa menstabilkan harga cabai. Tingginya harga cabai tidak saja merepotkan para ibu rumah tangga, tetapi juga industri makanan-minuman dan industri olahan yang menggunakan bahan baku cabai.
Berbeda dengan komoditas beras, fluktuasi harga cabai cenderung sulit dikendalikan. Fluktuatif harga beras lebih mudah. Selain produsen beras dari negara lain banyak, konsumsi beras di dunia relatif sama dari waktu ke waktu. Usia budidaya beras juga hanya empat bulan. Karakteristik komoditas cabai berbeda. Usia budidaya cabai delapan bulan. Artinya, dalam setahun, cabai hanya bisa ditanam sekali. Berharap pada musim panen berikut menambah pasokan sekaligus menekan gejolak harga cabai tentu terlalu lama. Konsumen sudah terlanjur berteriak kemahalan.
Impor cabai juga tidak mudah. Karakteristik konsumen cabai di Indonesia berbeda dengan negara lain. Masyarakat Indonesia lebih menyukai cabai segar dibandingkan dengan cabai olahan.
Karena berbeda, tidak banyak pilihan negara yang bisa memasok cabai spesifik untuk konsumen Indonesia. Dengan kenyataan itu, tidak mudah bagi pemerintah mengendalikan harga cabai semata melalui kebijakan perdagangan/tata niaga.
Karena kalau Indonesia butuh cabai segar dalam kapasitas besar, belum tentu tersedia di pasar. Kalaupun dalam waktu singkat dibangun industri pengolahan cabai skala besar, belum tentu diminati konsumen. Pendidikan pola konsumsi cabai perlu diberikan dan hal itu butuh waktu.
Satu-satunya cara meredam fluktuasi harga cabai adalah dengan memperbanyak pertanaman cabai musim berikutnya. Ironisnya petani punya "penyakit" latah.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman memang membebaskan petani untuk memilih jenis tanaman yang paling menguntungkan bagi mereka. Di sisi lain, kelembagaan pertanian belum sepenuhnya jalan.
Situasi ini menyulitkan pemerintah melakukan pengawasan dan perhitungan luas pertanaman rill, untuk menghitung neraca produksi dan kebutuhan cabai secara tepat. Jadi, kalau perkiraan produksinya berlebih atau kurang, bisa diantisipasi sajak dini.
Apakah harus membuka heran impor cabai olahan sesegera mungkin, sambil membatasi sarapan cabai lokal oleh industri? Atau sebaliknya mencari pasar eskpor untuk menampung kelebihan produksi cabai petani.
Banyak hal yang harus diperbaiki bersama. Penyebaran sentra produksi cabai yang lebih luas bisa menjadi salah satu alternatif solusi. Juga pendidikan pola konsumsi, terkait dengan perlunya membiasakan masyarakat mengonsumsi cabai olahan.
Harga cabai tembus Rp 90.000 per kilogram di tingkat konsumen. Di beberapa daerah yang jauh dari pusat produksi, harganya bisa mencapai Rp 100.000 per kg. bahkan ada yang sampai Rp 110.000.
Berbeda dengan musim panen cabai sebelumnya ketika harga cabai petani hanya Rp 3.000 per kg, bahkan di beberapa daerah hanya 1.500. Situasi harga cabai sekarang jelas memberi keuntungan berlipat-lipat bagi petani.
Bayangkan, dengan modal kurang dari Rp 10.000 per kg, petani bisa menjual dengan harga tiga kali lipat lebih tinggi. Jika harga jual cabai di tingkat petani Rp 30.000 per kg, untuk petani dengan lahan 1 hektar dan produktivitas 25 ton, uang Rp 600 juta dengan mudah bisa dikantongi petani tersebut.
Fluktuasi harga cabai terus terjadi setiap tahun. Meski pemerintahan datang silih berganti, seperti tak kuasa menstabilkan harga cabai. Tingginya harga cabai tidak saja merepotkan para ibu rumah tangga, tetapi juga industri makanan-minuman dan industri olahan yang menggunakan bahan baku cabai.
Berbeda dengan komoditas beras, fluktuasi harga cabai cenderung sulit dikendalikan. Fluktuatif harga beras lebih mudah. Selain produsen beras dari negara lain banyak, konsumsi beras di dunia relatif sama dari waktu ke waktu. Usia budidaya beras juga hanya empat bulan. Karakteristik komoditas cabai berbeda. Usia budidaya cabai delapan bulan. Artinya, dalam setahun, cabai hanya bisa ditanam sekali. Berharap pada musim panen berikut menambah pasokan sekaligus menekan gejolak harga cabai tentu terlalu lama. Konsumen sudah terlanjur berteriak kemahalan.
Impor cabai juga tidak mudah. Karakteristik konsumen cabai di Indonesia berbeda dengan negara lain. Masyarakat Indonesia lebih menyukai cabai segar dibandingkan dengan cabai olahan.
Karena berbeda, tidak banyak pilihan negara yang bisa memasok cabai spesifik untuk konsumen Indonesia. Dengan kenyataan itu, tidak mudah bagi pemerintah mengendalikan harga cabai semata melalui kebijakan perdagangan/tata niaga.
Karena kalau Indonesia butuh cabai segar dalam kapasitas besar, belum tentu tersedia di pasar. Kalaupun dalam waktu singkat dibangun industri pengolahan cabai skala besar, belum tentu diminati konsumen. Pendidikan pola konsumsi cabai perlu diberikan dan hal itu butuh waktu.
Satu-satunya cara meredam fluktuasi harga cabai adalah dengan memperbanyak pertanaman cabai musim berikutnya. Ironisnya petani punya "penyakit" latah.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman memang membebaskan petani untuk memilih jenis tanaman yang paling menguntungkan bagi mereka. Di sisi lain, kelembagaan pertanian belum sepenuhnya jalan.
Situasi ini menyulitkan pemerintah melakukan pengawasan dan perhitungan luas pertanaman rill, untuk menghitung neraca produksi dan kebutuhan cabai secara tepat. Jadi, kalau perkiraan produksinya berlebih atau kurang, bisa diantisipasi sajak dini.
Apakah harus membuka heran impor cabai olahan sesegera mungkin, sambil membatasi sarapan cabai lokal oleh industri? Atau sebaliknya mencari pasar eskpor untuk menampung kelebihan produksi cabai petani.
Banyak hal yang harus diperbaiki bersama. Penyebaran sentra produksi cabai yang lebih luas bisa menjadi salah satu alternatif solusi. Juga pendidikan pola konsumsi, terkait dengan perlunya membiasakan masyarakat mengonsumsi cabai olahan.
PERSOALAN KURIKULUM 2013
Assalamualaikum wr, wb. apa kabar para blogger semua? Kali ini saya akan memposting sebuah berita yang ada di sebuah koran Kompas, Kamis, 18 DESEMBER 2014. Biaya yang mahal menjadi beban pada setiap orang tua yang mensekolahkan anaknya.
JAKARTA, KOMPAS – Penggunaan kembali Kurikulum 2006 pada
semester genap mulai Januari 2015 membuat
orang tua harus membeli buku paket baru untuk anak-anak mereka.
Pembelian buku baru membebani orang tua karena harga buku pelajaran berbasis
Kurikulum 2006 terbilang mahal.
Seperti
diwartakan sebelumnya, sekolah yang baru satu semester menerapkan Kurikulum
2013 akan kembali ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 pada semester
mendatang.
“Harga
judul buku yang sama berbeda-beda, tergantung toko, Harganya juga lumayan mahal,
dari Rp 35.000 sampai Rp 60.000,” kata Esti di Jakarta, Rabu,(17/12). Perempuan
yang memiliki anak yang duduk di kelas I di SDN Pondok Labu 05 Pagi ini mengaku,
untuk membeli satu paket buku pelajaran yang terdiri atas 7 buku, ia harus
menyiapkan Rp 400.000. Jumlah itu berat mengingat gaji suaminya yang bekerja
sebagai kurir barang.
Esti
mengatakan, di SDN Pondok Labu 05, sekolah memberikan pinjaman buku-buku
pelajaran untuk meringankan beban orang tua. Hanya saja, buku tidak lengkap.
Sebagian siasat, orang tua berkoordinasi mengumpulkan uang dan memfotokopi buku
pelajaran, fotokopi itu lalu dibagi-bagikan kepada anak-anak.
Akan
tetapi, tidak semua sekolah mengizinkan orang tua memfotokopi buku. Contohnya,
SDN Pondok Labu 01. Salah satu orang tua murid di sekolah itu, Anisa,
mengatakan, sekolah mau meminjami buku dengan syarat tak boleh dicoret-coret.
Padahal , beberapa pekerjaan rumah (PR) harus langsung dikerjakan pada buku.
Sekolah juga melarang buku difotokopi karena melindungi hak cipta.
“kalau
gitu caranya, lebih baik kami beli buku sendiri, daripada anak enggak bisa
mengerjakan PR,” kata Anisa yang anaknya
duduk di kelas V SDN Pondok Labu 01.
Beban
bertambah berat karena Anisa juga memiliki anak yang duduk di kelas IX di SMP
swasta. Setidaknya, Anisa menganggarkan RP 1 juta untuk buku dan dia
mengandalkan pendapatan suaminya yang hanya bekerja sebagai sopir pribadi.
Terbitan swasta
Kepala
pusat Kurikulum dan Buku Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Ramon
Mohandas mengatakan, buku berbasis Kurikulum 2006 memang dibuat penerbit.
Distribusi dan penjualan juga tanggung jawab penerbit. Berbeda dengan buku
berbasis Kurikulum 2013 yang diterbitkan Kemdikbud dan dicetak oleh penyedia
(percetakan) pemenang tender dengan harga sudah “dipagari” agar tidak terlalu
mahal.
Secara
terpisah, Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia Djadja Subagdja memperkirakan,
tidak ada kekurangan dalam persediaan buku kurikulum 2006, meskipun waktunya
tinggal kurang dari satu bulan. Alasannya penerbit biasanya mencetak buku dalam
jumlah banyak. Di samping itu, buku-buku tidak habis dijual dalam waktu satu
tahun.
Dugaan korupsi
Secara terpisah, Koordinator
Divisi Monitoring dan Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch Febri Hendri
meminta pemerintah mengusut pengadaan buku dan modul Kurikulum 2013 bagi
pengawas sekolah untuk Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Gorontalo.
Pengadaan
terdata mencetak 22.221 buku modul Rp 983 juta. Pengadaan itu, kata Febri,
dilakukan unit kerja Kemdikbud, yakni Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang otomotif dan Elektronik di Kota Malang,
Jawa Timur. “Ditemukan dugaan perbuatan membuat harga jauh lebih tinggi
daripada harga pasar dan persekongkolan dalam lelang. Kerugian negara diduga Rp
786 juta,”kata Febri.
Inspektur
Jendral Kemdikbud Haryono Umar menyatakan sudah membentuk tim penyelidik yang
terdiri atas lima anggota inspektorat. “Kami harus tahu dulu fakta lapangannya.
Belum jelas kasus ini akibat pelanggaran disengaja atau kelalaian. Setelah ada
bukti konkret, bisa ditentukan sanksinya,” ujar Haryono. (DNE/LUK)
Ya sekian, menurut pendapat saya pengadaan buku kurikulum
2013 tidak tepat, karena ada kabar bahwa buku kurikulum 2013 akan ditarik dan
pada tahun depan awal bulan tapatnya bulan januari akan kembali memakai buku kurikulum 2006. Menurut saya pengadaan
kurikulum 2013 hanya membuang-buang uang negara saja. Sekian dari saya kurang
lebihnya mohon di maafkan wassalamualaikum wr, wb.
sumber: Koran Kompas, Kamis, 18 Desember 2014 hal 11
Langganan:
Postingan (Atom)


